Wuhan Khawatir Akan Munculnya Kembali Kasus COVID-19, Saat Adakan Tes yang Memicu Kerumunan

0

Warnabiru.com – Ketika Wuhan mengadakan tes virus corona secara besar-besaran, beberapa warga memadati setiap pusat-pusat tes yang menggelar pengujian tersebut. Masyarakat sekitar mengaku prihatin akan situasi tersebut, pasalnya hal itu dapat menimbulkan resiko munculnya kembali kasus COVID-19 di masyarakat.

Keselamatan telah menjadi topik hangat di berbagai media sosial kota Wuhan, kata seseorang yang mengikuti tes massal tersebut yang menyebabkan terjadi kerumunan di berbagai klinik. Namun, sebagian masyarakat kota Wuhan mengatakan bahwa mereka mendukung gerakan sukarela.

Otoritas Kesehatan Wuhan kembali melakukan tindakan tegas setelah adanya konfirmasi tentang adanya temuan kasus baru virus corona pada akhir pekan lalu. Kasus baru ini muncul pertama kali sejak pemerintah mencabut kebijakan lockdown pada 8 april.

Semua kasus baru COVID-19 yang muncul itu terjadi pada orang yang tidak menunjukkan gejala, yang mendorong otoritas kesehatan Wuhan untuk meluncurkan program pencarian diseluruh kota terhadap orang yang diduga membawa virus tanpa menunjukkan adanya suatu gejala, dengan tujuan untuk mengetahui tingkat resiko atas COVID-19.

BACA JUGA: Nasihat Resmi Belanda : Sebaiknya Pria dan Wanita Lajang Cari “Teman Khusus” Selama Lockdown

Meskipun bioskop dan beberapa restoran Wuhan tetap tertutup guna membatasi pertemuan dalam skala besar, program tes itu mengharuskan orang untuk menunggu dalam antrian panjang, dan kadang-kadang terlihat berantakan.

“Beberapa orang menyatakan khawatir mengenai tes ini, yang mengharuskan orang harus berkerumun, yang dikhawatirkan beresiko timbulnya infeksi baru,” ujar salah satu warga Wuhan yang enggan disebutkan namanya.

“Tapi banyak juga yang membantah kekhawatiran itu, mereka berpendapat jika komentar seperti itu tidak mendukung upaya pemerintah,” tambahnya.

Para ahli mengatakan, bahwa skala pengujian yang belum pernah terjadi sebelumnya menunjukkan tingkat kekhawatiran resmi. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa ini adalah program yang sangat mahal dan efektifitasnya menimbulkan pertanyaan.

Di salah satu lokasi program tes yang diadakan disamping ruas jalan yang sibuk, distrik Jianghan, pusat kota Wuhan. Seorang sukarelawan berpatroli dan menyemprotan disinfektan untuk orang yang berada di antrian panjang.

Banyak orang yang mengamati tentang jarak sosial. Seperti antrian yang harus menjaga jarak setidaknya satu meter, dan terdapat rambu-rambu disekitar mereka. Namun, banyak juga yang tidak seperti demikian. Dalam beberapa kasus, pekerja sukarela tidak memaksa orang yang antri untuk mematuhi.

Ditempat lain, dilakukan tes swab. Garis kuning dan hitam terpasang ditanah untuk memberikan jarak agar peserta tes tidak berkerumun. Tetapi , dibelakang antrian panjang terdapat sekitar 40 orang berkerumun tanpa adanya penegakan dari petugas atau sukarelawan.

Warga mengatakan, pihak yang berwenang belum memberitahu mereka kapan hasil dari tes akan diumumkan.

Untuk mengatasi adanya peningkatan pekerjaan dalam program tes tersebut, banyak rumah sakit di kota Wuhan diminta untuk mengatur tentang poin dari tes, dan lembaga-lembaga lain turut berpartisipasi dalam pelaksanaan program, ungkap salah satu dokter yang terlibat dalam program tes tersebut.

“Kami sekarang bekerja 24 jam dalam sehari, dan kami ada banyak tekanan,” kata dia.

China telah mengkonfirmasi jumlah kasus pada hari jumat, 82.941 kasus positif , dan 4.633 jumlah kasus kematian. Pemerintah tidak memasukkan jumlah kasus bagi pasien tanpa gejala dalam laporan resmi, dan juga tidak menerbitkan jumlah kumulatif setiap kasus tanpa gejala.

BACA JUGA: Kasus Melonjak, Moscow Luncurkan Program Tes Massal Antibodi Virus Corona

Juru Bicara Komisi Kesehatan Nasional, Mi Feng mengatakan kepada wartawan, 194 orang tanpa gejala dikonfirmasi pada pertengahan mei, turun 62 persen dibanding paruh kedua april.

 

APA PENDAPAT ANDA

Silahkan masukan komentar
Masukan nama Anda disini