Alasan Mengapa Banyak Orang Enggan Lakukan Rapid Test

Baca juga

Keuntungan menjadi anggota VIP danarupiah

Warnabiru.com – Pengguna aplikasi danarupiah pasti tidak asing lagi dengan istilah anggota VIP danarupiah yang bisa dimukan didasbor aplikasi...

10 Penyedia Pinjaman Online Dan KTA Tanpa Kartu Kredit Dengan Proses Termudah

Warnabiru.com - Pusing dengan rumitnya syarat pengajuan KTA ke bank? Jangan khawatir karena masih banyak pilihan alternatif yang bisa...

Pengenalan Marketplace Dan Toko Online Bagi Pemula

Toko Online adalah media yang memudahkan orang untuk membeli dan menjual barang tanpa harus bertemu atau bertemu muka karena...

Warnabiru.com – Infeksi COVID-19 yang semakin tinggi di Indonesia tidak membuat orang ingin untuk menjalani tes COVID-19, sebagian besar karena masalah ketenagakerjaan dan rasa takut akan pengasingan, meskipun pemerintah berupaya untuk mengendalikan penyakit ini melalui peningkatan rapid test.

Herdayati, seorang penduduk Kampung Elektro di Penjaringan, Jakarta Utara, mengingat bagaimana beberapa tetangganya menutup diri ketika tes swab COVID-19 yang dilakukan di balai desa pada bulan Juni.

Pihak berwenang menawarkan tes PCR di daerah itu setelah 23 warga ditemukan positif COVID-19. Dari sekitar 300 warga yang diundang untuk mengikuti tes, hanya 37 yang muncul. Banyak yang enggan dites karena takut dicap jelek dan kehilangan kesempatan untuk mencari nafkah.

Ketakutan itu dibenarkan.

Ketika identitas 23 orang yang awalnya dites positif mengidap corona ditemukan, kepanikan menyebar dan tetangga Herdayati, yang bekerja sebagai buruh langsung dipecat.

“Orang-orang takut itu akan mengganggu kehidupan mereka sendiri dan kehidupan tetangga mereka. Jika positif, orang-orang kita akan terpojok.” katanya.

BACA JUGA: Harga Rapid Test Tak Tentu, Ombudsman: Jadi Komoditas Komersil 

Bagi sebagian besar orang, pertimbangan ekonomi seperti hilangnya pendapatan dianggap sama pentingnya dengan kesehatan masyarakat, menurut survei bersama gerakan komunitas Lapor COVID-19 dan Lab Ketahanan Sosial Universitas Teknologi Nanyang. Survei ini mengumpulkan tanggapan 154.471 orang di Jakarta dari 29 Mei hingga 20 Juni.

Lebih dari 80 persen responden mengatakan pertimbangan ekonomi sama pentingnya dengan kesehatan masyarakat, sementara 16 persen mengatakan pertimbangan ekonomi lebih penting. Hanya 3 persen yang mengatakan kesehatan masyarakat lebih penting.

Dan sementara banyak orang menentang risiko infeksi COVID-19 agar tetap bertahan secara ekonomi (64 persen), sekitar 13 persen responden mengatakan sebaliknya.

“Yang mengkhawatirkan adalah masih ada sekelompok orang yang mau terinfeksi untuk mendapatkan uang,” kata Sulfikar Amir, seorang sosiolog bencana di NTU di Singapura yang terlibat dalam survei, selama konferensi pers virtual pada akhir pekan.

“Mereka bertindak seolah-olah coronavirus hanyalah semacam tipu daya,” kata Herdayati.

Sekitar 18 persen responden percaya COVID-19 adalah buatan manusia, sementara 23 persen percaya itu bukan buatan manusia. Mayoritas orang yang disurvei (58 persen) mengatakan mereka tidak tahu apakah penyakit itu buatan manusia atau tidak.

“Yang membuatnya mengkhawatirkan adalah masih ada responden yang percaya bahwa COVID-19 sengaja dibuat atau tidak yakin bagaimana menjawabnya. Keraguan ini berpotensi mendorong mereka untuk memercayainya jika mereka mendapatkan informasi yang memperkuat keyakinan ini” kata Sulfikar.

Ridhayani, seorang warga Makassar di Sulawesi Selatan, mengingat bahwa spanduk yang menentang rapid test telah dipasang di sebuah gang di daerahnya.

“Ibu saya mengatakan banyak tetangga tidak akan melakukannya, mungkin karena mereka takut dirawat di rumah sakit atau tidak peduli dengan penyakit itu,” katanya.

Lebih dari 20 warga desa Setih, Teluk Kayeli, di Kabupaten Buru Maluku dilaporkan menolak untuk melakukan tes cepat karena mereka percaya penyakit itu palsu.

Ratusan pedagang tradisional di Tabanan, Bali, pasar Solok di Sumatra Barat, pasar Kramat di Jakarta Pusat dan pasar Cileungsi di Bogor, Jawa Barat, juga menolak untuk diuji.

Gelombang penolakan bahkan telah menarik perhatian Presiden Joko Widodo. “Mengapa orang menolak untuk tes PCR dan rapid test? Karena petugas penguji datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan tanpa memberi tahu orang” kata Jokowi baru-baru ini.

Keengganan masyarakat untuk dites adalah tantangan lain yang harus dihadapi pemerintah dalam upayanya meningkatkan pengujian nasional, yang diperlukan untuk menginformasikan kebijakan mitigasi virus.

BACA JUGA: Kasus Demam Berdarah Terus Meningkat di Beberapa Daerah

Pada hari Rabu, 968.237 sampel telah diuji secara nasional, menurut data dari Kementerian Kesehatan. Penghitungan resmi COVID-19 di Indonesia mencapai 68.079 kasus dan 3.359 kematian pada hari Rabu.

Ketua Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Ede Surya Darmawan mempertanyakan strategi komunikasi publik pemerintah.

“Apakah kita telah memberi tahu publik dengan benar?” tanyanya. “Pemahaman itu penting agar orang tidak berpikir untuk menolak rapid test.”

Berita Terkait

Sri Mulyani: Masalah Administrasi Hambat Pengeluaran Anggaran COVID-19

Warnabiru.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa beberapa masalah administrasi telah menghambat upaya pemerintah untuk mengucurkan dana anggaran COVID-19 dengan cepat, ketika...

APA PENDAPAT ANDA

Silahkan masukan komentar
Masukan nama Anda disini

Berita Terbaru

Terkait Pelaporannya Hadi Pranoto Siap Gugat Balik Muannas Alaidi Sebesar 10 Miliar Dollar AS

Warnabiru.com - Ketua Umum Cyber Indonesia, Muannas Alaidi melaporkan Anji dan Hadi Pranoto atas dugaan penyebaran berita bohong pasca...

Soal Penangkapan Pelaku Fetish Kain Jarik

Warnabiru.com - Pelaku fetish kain jarik secara resmi ditangkap pihak kepolisian. GAN ditangkap di rumahnya yang terletak di Kelurahan Selat Dalam, Kecamatan Selat, Kabupaten...

Pelaku Perusakan Mobil BNN Saat Penangkapan Bandar Narkoba Ditetapkan Sebagai Tersangka

Warnabiru.com - Polresta Deliserdang secara resmi menetapkan tersangka perusakan mobil BNN Kabupaten Deliserdang yang berusaha menangkap bandar narkoba di Dusun III Rugemuk, Kecamatan Pantai...

Pemerintah Akan Salurkan Bantuan Karyawan Rp 600.000 Perbulan, Penerima Harus Terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan

Warnabiru.com - Lewat Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Erick Tohir, menyatakan pemerintah akan memberi bantuan karyawan swasta yang bergaji dibawah...

Dituduh Pelakor dan Hampir Ditelanjangi, Seorang Wanita Lapor Polisi

Warnabiru.com - Beberapa waktu lalu viral video seorang oknum anggota DPRD Morowali Utara, Sulawesi Tengah digerebek istri sahnya saat berduaan dengan wanita lain dalam...

Berita Pilihan

Metha Penjual Rumah yang Siap Dinikahi Pembelinya Bila Jodoh

Metha Kanzul (30) tengah viral karena dia menjual rumahnya yang berada di daerah Mesu, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung. Sekaligus siap dinikahi pembelinya. Wanita...

Video Anji dan Hadi Pranoto Tentang Covid-19 yang Menghebohkan

Warnabiru.com - Channel Youtube Dunia Manji tengah menjadi perbincangan. Pasalnya chanel Youtube milik Anji seorang musisi ini menampilkan obrolan Anji dengan Hadi Pranoto seorang yang...

Pelaku Order Fiktif Paket Parabola dan Pisang Satu Truk di Kendal Ditangkap

Warnabiru.com - Polisi berhasil menangkap pelaku order fiktif kepada korban yang bernama Titik (20). Perempuan asal Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, itu...

Setelah 12 Tahun Akhirnya Kedok TNI Gadungan Terbongkar di Medan

Warnabiru.com - Aksi TNI gadungan berinisial M (50) asal Kelurahan Kwala Bekala, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, Sumatera Utara, akhirnya terhenti. Setelah seorang petugas Babinsa...