Bagaimana Neoralis Memandang Konflik Suriah

Baca juga

Keuntungan menjadi anggota VIP danarupiah

Warnabiru.com – Pengguna aplikasi danarupiah pasti tidak asing lagi dengan istilah anggota VIP danarupiah yang bisa dimukan didasbor aplikasi...

10 Penyedia Pinjaman Online Dan KTA Tanpa Kartu Kredit Dengan Proses Termudah

Warnabiru.com - Pusing dengan rumitnya syarat pengajuan KTA ke bank? Jangan khawatir karena masih banyak pilihan alternatif yang bisa...

Pengenalan Marketplace Dan Toko Online Bagi Pemula

Toko Online adalah media yang memudahkan orang untuk membeli dan menjual barang tanpa harus bertemu atau bertemu muka karena...

seniberpikir. com
Ada salah satu teori dalam Ilmu Hubungan Internasional yang bernama Neorealis. Teori ini dapat kita gunakan dalam melihat dan mengkaji bagaimana konflik Suriah terjadi, apa penyebabnya, siapa saja aktornya, dan apa kepentingan tiap-tiap aktor. Sebetulnya masih banyak kacamata yang dapat dipakai dalam memandang konflik Suriah, namun, kacamata Neorealis saya gunakan supaya pembaca awam dapat pandangan yang lebih jelas dalam melihat konflik ini.

Asumsi dasar kaum Neorealis hampir serupa dengan saudara tuanya; kaum Realis klasik. Keduanya memandang bahwa Hubungan Internasional pada dasarnya konfliktual dan penuh dengan anarki. Kaum realis punya anggapan pesimistis pada sifat manusia (menganggap kerja sama adalah mustahil), pihak Neorealis, sebaliknya beranggapan bahwa kerja sama mungkin saja untuk dilakukan.

Selain mempunyai kesamaan dari cara mereka memandang sistem Internasional, keduanya juga akur dalam menentukan aktor yang terlibat. Baik Neorealis maupun realis klasik setuju bahwa satu-satunya aktor sentral dalam HI adalah negara. Tentu ini berbeda dengan kawan antitesanya – kaum liberal yang berpandangan bahwa aktor dalam HI tidak hanya negara, lebih dari itu ada individu, MNC, NGO, dan sebagainya (multiple actor).

Keneth Waltzh, pemikir teori Neorealis, memfokuskan pandangannya (Neorealis) pada sturktur. Itulah yang membuat pandangan ini sering disebut sebagai “realisme struktural”. Kaum Neorealis memiliki asumsi bahwa tindakan para aktor dipengaruhi oleh struktur. Dalam pandangan Neorelais struktur yang dimaksud adalah keaadaan dunia yang anarki.

Menurut Waltz, struktur anarki tercipta karena adanya perbedaan kapasitas power yang dimiliki oleh tiap-tiap aktor. Artinya, kesenjangan kekuatan antara negara kuat dengan negara lemah (dalam sistem anarki) akan menciptakan suatu kondisi yang dinamakan security dilemma (dilema keamanan). Kondisi dilema dimana negara yang lemah akan berusaha meningkatkan kekuatannya agar bisa sama atau seimbang dengan negara yang lebih kuat. Terdapat dua cara, yaitu dengan meningkatkan kapasitas internal (SDM, artileri, kekuatan) atau beraliansi dengan negara lain.

Cara untuk menstabilkan tatanan dunia yang pada dasarnya anarki, adalah dengan menciptakan kondisi Balance of Power (Perimbangan kekuatan). Kekuatan antar aktor harus diseimbangkan demi menstabilkan struktur internasional tersebut. Bisa menggunakan skema multipolar (banyak negara kuat) atau bipolar (dua kekuatan besar). Waltz sendiri lebih condong ke nomor dua.

Analisis Konflik

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, baik kaum realis klasik maupun neorealis menganggap negara sebagai aktor sentral dalam HI. Untuk itu, dalam menganalisa konflik yang terjadi di Suriah, maka yang menjadi fokus kita adalah keterlibatan suatu negara. Apa motifnya, dan kepada siapa ia mendukung. Untuk memahami itu, kita juga perlu membaca ulang sejarah terciptanya konflik Suriah dan apa motif yang menjadi latar belakang konflik tersebut.

Ada bermacam aktor yang terlibat, namun secara garis besar ada 6 negara yang kepentinganya cukup terlihat jelas, diantaranya :
Iran : Untuk menjaga aliran Syiah, dan sebagai medium penyalur pengiriman bantuan ke Hizbullah di Lebanon, menentang pengaruh AS
Rusia : Mengamankan pangkalan militer penting di provinsi Latakivia dan sebuah pangkalan angkatan laut di kota pelabuhan Tartrus.

Arab Saudi : Menentang upaya Iran untuk memperluas pengaruhnya di Teluk Persia, menjaga aliran Sunni

Turki : Mencegah warga Kurdi di Suriah mendapatkan otonomi di Suriah Utara. Mereka khawatir Kurdi dapat menguatkan Partai Pekerja Kurdistan. Turki juga mempunyai kepentingan untuk mengalahkan ISIS.

Israel : Mencegah Iran mendapatkan pengaruh di Suriah. Israel juga ingin menghentikan Hizbullah mendapatkan tanah.

AS : Penghancuran ISIS dan kelompok ekstrimis lainnya di Suriah.

Dalam mendefinisikan kepentingan nasional suatu negara dapat dilihat dari empat variable yaitu, defence interest, economic interest, ideological interest, dan world order interest.

Dengan melihat variabel tersebut, kita akan mencocokan mana negara yang memiliki kepentingan serupa. Pencocokan ini digunakan buat mengetahui apakah ada persaingan oleh tiap aktor dalam mencampuri konflik Suriah.

Dalam hal ini, Iran dan Arab Saudi mempunyai kepentingan serupa, mereka sama-sama kepengin mempertahankan Ideologinya (ideological interest). Iran dengan aliran Syiah, sedangkan Arab Saudi dengan Sunninya.

Kita akan sedikit melihat kondisi social masyarakat negara Suriah. Kira-kira 70 % masyarakat Suriah memeluk aliran Sunni, aliran yang mayoritas juga dianut oleh rakyat Arab Saudi. Sedangkan sisanya, 30 % diisi oleh Kristen, Syiah dll. Rezim Basar Al Asad dan pihak penting di lingkaran pemerintahan, memeluk aliran Syiah (alawiyah).

Hal ini menciptakan persaingan antara Arab Saudi dan Iran dalam mempertahankan kepentingan deologi. Arab Saudi ketakutan jika sampai aliran syiah yang dianut oleh rezim saat ini akan mereduksi atau bahkan menindas kaum Sunni. Sedangkan Iran tak ambil diam, mereka juga bernafsu untuk memperluas cakupan Syiah di dalam negara Suriah.

Dengan situasi Suriah yang anarki, maka perimbangan kekuatan (balance of power) dua kekuatan ini menjadikan struktur Internasional cenderung stabil, karna tidak adanya pihak yang mendominasi. Ini pun disebut sistem bipolar, karena hanya ada dua aktor yang terlibat – Iran dan Arab Saudi.

Neorealisme Waltz yang mensyaratkan perimbangan kekuatan melalui mekanisme bipolar, demi menciptakan struktur internasional yang stabil. Apa yang dilakukan Arab Saudi dan Iran bisa mencerminkan perspektif neorealisme dalam memandang konflik Suriah.

FB Komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Begini Tips Agar Suami Makin Betah di Rumah

Warnabiru.com - Bagi seorang wanita yang sudah menikah, keberhasilan yang sesungguhnya bukan tentang karir di luar rumah, bukan tentang...

Ternyata Generasi Jadul Lebih Hebat Dibandingkan Generasi Milenial, Ini Buktinya!

Apa perbedaan anak jaman dulu dengan sekarang? dan mana yang lebih hebat? Simak penjelasan mengenai Ternyata Generasi Jadul Lebih Hebat disini.Banyak pendapat yang mengatakan...

La Liga 2020/21: Preview dan Prediksi Atletico Madrid vs Granada

Pertandingan La Liga Musim 2020/21 Pekan ke-3 antara Atletico Madrid dengan Granada akan berlangsung pada hari Minggu 27 September 2020 pukul 21.00 WIB -...

Ustad Abdul Somad Dijaga Saat Ceramah di Lampung Pasca Kasus Penusukan Syekh Ali Jaber

Warnabiru.com - Dalam sebuah ceramah yang diisi oleh Ustad Abdul Somad (UAS) terlihat dirinya dijaga personil TNI. Hal tersebut dijelaskan secara langsung oleh Kabid...

Serie A 2020/21: Preview dan Prediksi Crotone vs AC Milan

Pertandingan Serie A Musim 2020/21 Pekan ke-2 antara Crotone dengan AC Milan akan berlangsung pada hari Minggu 27 September 2020 pukul 23.00 WIB -Stadio...

Berita Pilihan

Tiktok Tidak Jadi Diblokir di Amerika Serikat

Warnabiru.com - Pengguna Tiktok di Amerika Serikat akhirnya dapat bernafas lega. Pasalnya Tiktok batal diblokir oleh Pemerintah Amerika Serikat karena berhasil melakukan kesepakayan antara...

Belum Genap Sebulan Menjabat, Perdana Menteri di Lebanon Mengundurkan Diri

Warnabiru.com - Perdana Menteri Mustapha Adib adalah perdana menteri di Libanon yang baru saja terpilih pada 31 Agustus 2020 kemarin. Namun belum genap sebulan...

Ratusan Demonstran Perempuan Ditangkap Dalam Demonstrasi di Belarus

Warnabiru.com - Dalam rangka unjuk rasa menentang kemenangan Presiden Belarus, Alexander Lukhashenko atas pesaingnya Svetlana Tikhnavskaya di Pemilu Belarus silam. Ratusan wanita ditangkap polisi...